syair cinta ibnu athaillah
Ibnu Athaillah) Rendah hati akan menumbuhkan kecintaan, dan lapang dada menerima pemberian Allah SWT akan melahirkan ketenangan jiwa. (Imam Syafi’i) Biasakan untuk menyimak (mendengarkan) nasehat-nasehat, sebab sesungguhnya hati ketika kosong dari nasehat maka akan buta. (Abdul Qadir Al-Jailani)
Artinya “Bukti kebodohan seseorang adalah selalu menjawab semua pertanyaan, menceritakan semua yang dilihat, dan menyebut semua yang diketahui.”. Hikmah yang disampaikan Ibnu Atha’illah ini telah dijelaskan kembali oleh Syekh Abdullah Asy-Syarqawi. Menurut Syekh Abdullah, seorang murid atau seorang arif dianggap bodoh jika ia selalu
BiografiSyeikh Ibnu Athaillah as Sakandari. Syeikh Ibn ‘Atha’illah as-Sakandari (w. 1309 M) hidup di Mesir di masa kekuasaan Dinasti Mameluk. Syair yang terkenal adalah Al Mu’allaqat yang berarti kalung, perhiasan yang digantung. Pada masa itu orang Arab menunjukkan rasa bangga dengan suku bangsanya lewat puisi. Periode Shadr Islami
SyeikhIbn ‘Atha’illah as-Sakandari (w. 1309 M) hidup di Mesir di masa kekuasaan Dinasti Mameluk. Ia lahir di kota Alexandria (Iskandariya
KitabAl-Hikam Ibn Athaillah As-Sakandary KH Hamid Pasuruan Tradisi Tasawuf Hakikat Guru Sejati . Like . Tim Editor . Riadi 17 Juni 05:23 WIB . Khazanah. Kembali ke Cinta Pertama, Makna Syair di PP Tambakberas Jombang. 13 Juni 03:07 WIB . Islam Sehari-hari. Ustaz dan Guru Sejati Menurut Syams Tabrizi. Advertisement. 09 Juni 04:11 WIB
Site De Rencontre Gratuit Uniquement Pour Les Femmes. Ibnu Atha’illah as-Sakandari, salah satu ulama sufi ternama yang menjadi rujukan para ulama menyatakan dalam karyanya, Al-Hikam, bahwa senang dan sedih adalah dua entitas yang tak bisa dipisahkan. Oleh karena itu bisa dikatakan bahwa sesuatu yang disenangi adalah juga sesuatu yang disedihkan. Jika yang disenangi banyak, maka kesedihan pun akan banyak. Sehingga Ibnu Atha’illah menyatakan لِيِقِلَّ مَا تَفْرَحُ بِهِ يَقِلَّ مَا تَحْزَنُ عَلَيْهِ“Tatkala berkurang apa yang membuatmu bahagia, maka berkurang pula apa yang membuatmu sedih”. Al-Hikam hlm 45Cuplikan di atas menunjukkan bahwa kebahagiaan seseorang ditentukan pada sedikit atau banyaknya cinta seseorang pada dunia seisinya. Penulis meyakini bahwa Syeh Ibnu Atha’illah tidak melarang manusia menjadi kaya atau memiliki segala hal yang membuatnya bahagia. Namun beliau mengingatkan bahwa semakin banyak manusia cinta pada dunia—dan itu membuatnya bahagia—maka semakin besar pula potensi kesedihan yang akan dialami jika suatu saat apa yang dicintai dan dimiliki hilang, dicuri, mati, hanyut, atau ditelan bumi. Dikatakan pula dalam sebuah syair ومن سره أن لايرى ما يسوؤه * فلا يتخذ شيئا يخاف له فقدافإن صلاح المرء يرجع كله * فسادا إذا الإنسان جاز به الحدا“Barang siapa bahagia jika tidak melihat sesuatu yang membuatnya susah dan sedih, maka janganlah ia mengambilnya jika khawatir kehilangan. Karena sesungguhnya seluruh kepantasan seseorang akan rusak jika melampaui batas”.Ulama dan uqola’, orang yang berakal mengatakan bahwa dar’ul mafaasid ahammu min jalbil mashalih, menghindari kerusakan lebih penting dari pada mencari maslahat. Dengan kata lain, kemampuan menghindarkan kerusakan akibat kesedihan harus didahulukan dari pada mengedepankan kemaslahatan berupa kebahagiaan yang timbul dari sesuatu yang bisa cepat dalam kitab Syarhul Hikam, seseorang raja mendapatkan kiriman gelas yang bertatahkan intan indah tiada tara. Sang raja sangat senang dan bahagia. Kemudian dia bertanya pada salah satu penasehatnya “Bagaimana pendapatmu?” Penasehat berkata, “Gelas ini indah, tapi sebaiknya raja tidak punya, saya melihat ada musibah dan kefakiran.” “Lho, saya justru senang punya gelas ini,” protes sang raja. Penasehatnya pun menjawab, “Jika gelas ini pecah, maka hal itu adalah musibah tidak ada yang bisa memperbaiki. Jika gelas ini dicuri, maka engkau akan menjadi fakir dan engkau tidak menemukan ganti yang sepadan. Padahal sebelumya, engkau dalam keadaan aman tanpa musibah dan kefakiran”.Singkat cerita, sang raja tidak menghiraukan perkataan penasehatnya. Karena saking senangnya, setiap hari gelas itu dipakai. Ia tidak mau minum jika tidak menggunakan gelas saat, gelas tersebut jatuh dan pecah. Hati sang raja menjadi susah. Nafsu makannya hilang beberapa hari. Dia pun memanggil penasehatnya dan berkata, “Kamu benar, kalau dulu saya tidak punya gelas itu, pasti tidak akan ada kejadian gelas pecah dan aku pun tidak akan sedih.”Syukur; Kunci BahagiaHadis Rasul SAW yang menjelaskan tentang syukur tidaklah sedikit. Salah satunya adalah hadis yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah berikutعَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ انْظُرُوا إِلَى مَنْ أَسْفَلَ مِنْكُمْ وَلَا تَنْظُرُوا إِلَى مَنْ هُوَ فَوْقَكُمْ فَهُوَ أَجْدَرُ أَنْ لَا تَزْدَرُوا نِعْمَةَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ “Diriwayatkan dari Abu Hurairah ia berkata, “Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda, Lihatlah orang yang berada di bawah kamu, dan jangan lihat orang yang berada di atas kamu, karena dengan begitu kamu tidak meremehkan nikmat Allah yang diberikan-Nya kepada kamu” HR. Bukhari-MuslimHadis di atas menjelaskan bahwa manusia dituntut untuk bersyukur atas apa yang telah diberikan oleh Allah SWT. dengan bersyukur, maka tidak akan ada sifat iri hati, dengki, dan tamak yang berlebihan. Sifat-sifat buruk tersebut menjadikan hati seseorang tenang, tentram, dan tentu bahagia karena jauh dari sifat membanding-bandingkan dengan A’lam.
JAKARTA – Seorang Muslim dapat dikatakan Mukmin jika dia dapat mencintai Allah SWt. Lantas bagaimana orang Mukmin mencintai Allah SWT? Ibnu Athaillah dalam kitab Al-Hikam menjelaskan, orang Mukmin yang sempurna adalah Mukmin yang selalu disibukkan oleh puji-pujian terhadap sifat-sifat indah Allah SWT sehingga dia tidak bangga dengan sifat-sifat baik dirinya. Orang Mukmin juga sibuk menunaikan kewajiban-kewajiban dirinya kepada Allah SWT sehingga tidak lagi ingat pada kepentingannya sendiri. Menurut Ibnu Athaillah لَيْسَ الْمُحِبُّ الَّذِي يَرْجُوْ مِنْ مَحْبُوْبِهِ عِوَضاً أوْ يَطْلُبُ مِنْهُ الْمُحِبَّ مَنْ يَبْذُلُ لَكَ لَيْسَ الْمُحِبُّ مَنْ تَبْذُلُ لَهُ "Laysal-muhibbulladzi yarjuu min mahbubihi iwadhan wa yathlubu minhu ghardhan, fa innal-muhibba man yabdzulu laka, laysal-muhibbu man tabdzulu lah. " Yang artinya, "Pencinta sejati bukanlah orang yang berharap imbalan atau upah dari keikhlasannya. Pencinta sejati adalah orang yang mau berkorban untukmu, bukan yang menuntut pengorbanan darimu." Sehingga menurut pandangan Ibnu Athaillah, Mukmin yang sejati tidak akan menisbatkan perbuatan baik dan kondisi batin yang dialaminya kepada dirinya sendiri dan tidak pernah memandang dirinya atau mengagungkannya. Mukmin sejati merupakan Mukmin yang merasa hampa dari semua perbuatan dan kondisi batin karena menisbatkannya kepada pelaku sesungguhnya dan sumber utamanya, yakni Allah SWT. Mukmin sejati juga lebih disibukkan oleh menunaikan hak-hak Allah SWT daripada menunaikan hak-hak dirinya. Bahkan dia tidak pernah mengingat keuntungan pribadinya sama sekali. Dia menyembah Allah karena Dzat-Nya, bukan karena mengharap surga-Nya atau ingin selamat dari neraka-Nya. Tanda mencintai Allah SWT? Dalam kitab Raudhah Al-Muhibbin karya Ibnu Qayyim Al-Jauzi disebutkan, jika seorang hamba mencintai sesuatu atau seseorang yang juga mencintai Allah dan Rasul-Nya, maka cintanya adalah cinta yang terpuji dan mendatangkan pahala. Salah satu tanda mencintai Allah adalah dengan mencintai orang-orang yang cintanya kepada Allah serta Rasul-Nya sangatlah besar. Tanda lainnya adalah mereka yang mencintai Alquran, hati dan jiwanya jatuh cinta kepada makna-makna dan kandungan yang ada di dalam Alquran. Bukanlah tanda bagi orang-orang yang mencintai Allah apabila ia tidak mencintai Alquran. Ibnu Qayyim Al-Jauzi bahkan menuliskan syair tentang tanda-tanda orang yang mencintai Allah. Jika kau mengaku mencintai-Ku Allah Mengapa kau hindari Kitab-Ku Alquran? Jika begitu, kau telah menghayalkan, Kandungannya yang penuh nikmat. Tak hanya tanda-tanda tersebut, selalu mengingat Allah dengan berdzikir dan berdoa juga merupakan bagian dari tanda-tanda orang yang mencintai Allah SWT. Orang yang mencintai Allah juga dapat terlihat dengan bagaimana ia mencintai ilmu dan mendermakan ilmunya hanya untuk kebaikan dan diniatkan atas Allah SWT. BACA JUGA Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Klik di Sini
Syekh Ibnu Athaillah menjelaskan bentuk cinta kepada Allah. Menurutnya, cinta kepada Allah yang kerap diucapkan banyak orang bisa saja merupakan cinta palsu, tetapi bisa juga cinta sejati. Cinta kepada Allah memang mudah diucapkan, tetapi pembuktiannya ini yang membutuhkan Ibnu Athaillah dalam hikmah berikut ini menyatakan ciri cinta sejati dan cinta palsuليس المحب الذي يرجو من محبوبه عوضاً أو يطلب منه غرضاً . فإن المحب من يبذل لك ليس المحب من تبذل لهArtinya, “Pecinta itu bukanlah orang yang mengharapkan imbalan dari kekasihnya atau mengejar sebuah tujuan dari sang kekasih. Pecinta itu orang yang berbuat sesuatu untukmu. Pecinta itu bukan orang yang diberikan sesuatu olehmu.”Menjelaskan hikmah ini, Syekh Syarqawi menjelaskan bahwa orang yang mengaku cinta kepada Allah takkan mengharapkan apapun atas amal ibadahnya. Orang yang cinta sungguhan kepada Allah hanya mengharap ridha-Nya sebagai keterangan Syekh Syarqawi berikut iniليس المحب الحقيقي الذي يرجو من محبوبه عوضاً على عمل يعمله فلا يقصده بأعماله الصالحة جنة ولا نجاة من نار أو يطلب منه غرضاً من الأغراض الدنياوية والأخروية فإن المحب الحقيقي من يبذل لك أي يعطيك ليس المحب الحقيقي من تبذل له لأن المحبة الحقيقية أخذ خصال المحبوب لمحبه. القلب فلا يصير عند المحب التفات لغير محبوبه فمن عبده تعالى لجنته فليس محبا له بل للجنةArtinya, “Pecinta sejati itu bukanlah orang yang mengharapkan imbalan dari kekasihnya atas perbuatan yang dia lakukan. Ia tidak bermakasud surga atau selamat dari neraka dengan amal salehnya. atau mengejar sebuah tujuan duniawi atau ukhrawi dari sang kekasih. Pecinta sejati itu orang yang berbuat yakni mempersembahkan sesuatu untukmu. Pecinta sejati itu bukan orang yang diberikan sesuatu olehmu karena cinta sejati meraih seluruh ridha kekasih untuk pecintanya. Bagi pencinta sejati, hatinya takkan berpaling pada selain kekasihnya. Oleh karena itu, siapa saja yang menyembah Allah SWT karena surga-Nya, maka ia bukan orang yang cinta Allah, tetapi cinta surga,” Lihat Syekh Syarqawi, Syarhul Hikam, [Semarang Taha Putra, tanpa catatan tahun], juz II, halaman 62-63.Jelasnya, cinta kepada Allah harus dibuktikan dengan pengorbanan secara total tanpa mengharapkan imbalan apapun baik yang bersifat materi maupun nonmateri. Niat ini yang membedakan penghambaan orang yang cinta sejati kepada Allah dan penghambaan orang yang memiliki pamrih sebagai keterangan Syekh Ibnu Abbad berikut iniالمحبة تقتضى من المحب بذل كلياته وجزئياته في مرضاة محبوبه من غير طلب حظ يناله منه. فهذا مما يلزم وجود المحبةArtinya, “Cinta itu menuntut pengorbanan segala hal besar maupun hal kecil dari pecinta untuk kesenangan kekasihnya tanpa menuntut bagian yang harusnya ia terima dari kekasihnya. Ini salah satu bagian dari kelaziman riil sebuah cinta,” Lihat Syekh Muhammad Ibnu Abbad, Syarhul Hikam, [Semarang Toha Putra, tanpa catatan tahun], juz II, halaman 62-63.Sejumlah keterangan di atas ini tidak dimaksudkan untuk menilai kadar cinta orang per orang kepada Allah SWT. Pasalnya, cinta adalah masalah ghaib yang tersimpan di batin masing-masing orang. Semua ini dimaksudkan untuk mengevaluasi diri kita seperti apa warna penghambaan kita kepada Allah SWT. Wallahu alam. Alhafiz K
NAHWU CINTA Oleh; Fuad Basya. السلام عليكم ورحمة الله وبركاته... Cinta adalah bahagianya hati saat bersama dengan objek yang dicinta. Jadi cinta adalah bentuk kata yang musytaq tidak jamid. Dalam bait-bait Syair Laila Majnun banyak sekali pengkisahan cinta dari gambaran dua insan sejoli yang saling mencintai tapi terpisahkan oleh keadaan. . Syair-syair tersebut sering kali menjadi motifasi bagi siapa saja yang tengah dilanda asmara, karena mereka benar-benar bisa menghayati kandungan makna dan maksud daripada syair itu, lantaran sedang menjalaninya. . Namun karena _Syair Laila Majnun_ memang hanya fokus pada penggambaran tentang cinta dan sudah banyak dijadikan jurus untuk meluluhkan si jantung hati, maka ada potensi garing dalam syair tersebut untuk dijadikan rayuan gombal, lantaran sudah tidak asing lagi didengar. . Namun, bagaimana bila Jurus rayuan gombal untuk menaklukan si jantung hati menggunakan _syair-syairdari Nadzom alfiyah?_ Pasti akan lebih efektif. Berikut beberapa bait nadzom alfiyah yang bisa diaplikasikan dalam kisah asmara Syair Cinta Dalam Bait Alfiyah Dalam Diam. Ibnu Malik berkata ويرفع الفاعل فعل أضمرا * كمثل زيد في جواب من قرأ "Fa’il terkadang bisa dibaca rofa' oleh fi’il yang disimpan. seperti ucapan kata “zaid” sebagai jawaban dari pertanyaan “siapa orang yang membaca?”.". Artinya, Ada tipikal seseorang yang sedang jatuh cinta tapi, memilih untuk menyimpan sejenak perasaan itu, bukan tak beralasan,namun karena dia beranggapan bahwa cinta untuk saat ini hanya sebuah hasrat yang belum mencapai tingkat kebutuhan. Namun bukan berarti dia melupakan cinta tersebut, dia tetap mencinta tapi dengan cara yang samar/Cinta dalam diam. Karena dia berfikir jauh kedepan, mempersiapakan diri sebaik mungkin agar dia menjadi sosok yang pantas. Dia mencinta dengan cara yang berbeda, namun indah. Sebab cinta bukan hanya sekadar tentang merasa nyaman, melainkan, lebih kepada" memberi rasa nyaman." Karena cinta bukan hanya menerima, tapi memberi dan menerima. 2. Hubungan Jarak Jauh. Ibnu Malik berkata وعلقة حاصلة بتابع كعلقة بنفس الاسم الواقع -Hubungan dlomir yang timbul dari isim taabi’ -Hakikatnya sama saja dengan hubungan dlomir yang timbul dari isim asal tersebut. Contoh زيدا ضربته زيدا ضربت رجلا يحبه Pada pengamalan istighol, kedua contoh ini sama saja. . . Artinya, Dalam masalah cinta jarak jauh, pertemuan merupakan suatu hal yang sangat sulit, namun juga sangat dinantikan. Tapi terkadang bagi yang menjalani LDR. Menelpon atau bahkan melihat potret kekasihnya saja, sudah mampu mengobati rindu yang melanda, layaknya bertemu langsung bertatap muka. Karena cinta yang sejati tidak akan luntur oleh sekat waktu dan jarak. . 3. Memilih Orang Yang Dekat Dan Tepat. Ibnu Malik berkata وفي اختيار لايجيئ المنفصل إذا تأتى أن يجيئ المتصل "Dalam kalam natsar tidak perlu mendatangkan dhomir munfasil. Selagi masih bisa memakai dlomir muttasil." Ini penjelasan tentang pembuatan maf'ul bih mengenai pemakaian dlomir. Dahulukanlah dlomir muttasilDlomir yang lebih dekat daripada dlomir munfasilDlomir yang jauh. Contoh ضربتك bukan ضربت إياك. Artinya. Dalam menentukan pasangan atau jodoh, carilah cinta seseorang yang lebih dekat dengan kamu dan mengesampingkan cinta seseorang yang jauh. . Maksudnya, orang yang dekat adalah, dia yang kepribadiannya sudah kamu kenal lebih jauh. Sehingga kamu faham akan karakteristiknya, sikap, watak, dan kepribadiannya. Maka dahulakan orang yang sudah lebih dulu mentaarufimu yang membuat nyaman hatimu. . Dan orang yang jauh adalah, dia yang belum kamu kenal sama sekali baik identitas ataupun kepribadiannya dan dia juga belum berpertasi membuat hatimu merasa nyaman dengannya. . 4. Menanyakan Status single. Ibnu Malik berkata و هل فتى فيكم، فما خل لنا* ورجل من الكرام عندنا Apakah sudah ada seorang laki-laki di sampingmu Karena saya belum memiliki kekasih. Kami punyai Seseorang yang mulia. Langkah awal sebelum menyatakan cinta adalah mengobservasi dahulu calon pasangan kita, apakah dia sudah mempunyai kekasih atau belum, apakah dia masih singleJomblo Atau berpasangan. Karena dalam islam sendiri, melamar lamaran orang sangatlah dilarang. Walaupun mungkin cinta tak bisa disalahkan karena cinta itu buta dan membutakan, tapi setidaknya jangan sampai ada bertambah fihak yang sakit hati karena cinta segi tiga atau segi empat. Dan meskipun ada ungkapan "Sebelum janur kuning melengkung." Namun cinta masih bisa dinetralisir dengan mencari pengganti lain. Wanita tidak cuma satu di Dunia. 5. Move On. Ibnu Malik berkata ينوب مفعول به عن فاعل فيما له كنيل خير نائل Dalam mabni lilmaf'ul/mabni majhul, maf’ul bih akan menggantikan posisinya si fail. Maka darisegi hukum dan amalnya akan sama persis dengan fa’il. Yang disebut Naibul fail. . Ada sediki orang yang mungkin sulit untuk menemukan sebuah pencerahan dikala dia merasakan pahitnya cinta, Bahkan bisa jadi dia bertekad untuk tidak lagi jatuh dalam hati seseorang, yang disebut FILOFOBIA. Prinsip seperti itu adalah salah, sebab pada dasarnya, semua orang mempunyai jodoh masing-masing dan akan dipertemukan dengan jodohnya suatu hari. Kemungkinan perpisahan yang terjadi, menunjukan bahwa dia yang pergi adalah jodoh yang tidak tepat dan yang harus kita lakukan adalah pre pare agar kita cukup pantas, saat kelak dipertemukan dengan jodoh yang tepat. So, jangan berkecil hati guys. Karena semua akan indah pada waktunya. 🤣🤣🤣 Sampai di situ saja ya. Sebenarnya masih banyak bait-bait nadzom alfiyah yang berpotensi cinta. Namun berhubung saya sudah capek ngetik dan sudah agak lupa, maka dicukupkan saja dahulu. Mohon dikoreksi yaa.. Bila salah dibenerin, maklum masih bodoh ini.. Oh,ya! Terimakasih buat karena telah menginspirasi oretan ini. Fii amanillah. Sampai jumpa lagi. Jangan lupa share yaaah.🙏🙏 والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته Foto
Syair Al Hikam merupakan kata-kata bijak Syekh Ibnu Atha’illah As-Sakandari dalam maqolah Kitab Al-Hikam dilengkapi teks arab dan artinya. – Syair berasal dari bahasa Arab dari akar kata syi’ir atau syu’ur yang memiliki arti perasaan yang menyadari. Sedangkan syair sendiri berasal dari Persia, yang kemudian dikenal juga sebagai puisi. Sedangkan syair Al Hikam merupakan puisi yang diambil dari maqolah kitab Al-Hikam karya Syekh Ibnu Atha’illah As-Sakandari. Syair al hikam adalah kata-kata bijak untuk para pesalik yakni seseorang yang menjalani laku ilmu tasawuf. Kata-kata bijak Syekh Ibnu Atha’illah As-Sakandari berisi berbagai hal tentang kehidupan. Berikut ini syair Al Hikam karya Syekh Ibnu Atha’illah As-Sakandari teks arab dan artinya مِنْ علاماتِ الا ِعْتِمادِ عَلىَ العَملِ نـُقـَصَانُ الرَّجاءِعِنْدَ وُجُوْدِ الزَّلل “Sebagian dari tanda bahwa seorang itu bergantung pada kekuatan amal dan usahanya, yaitu berkurangnya pengharapan atas rahmat dan karunia Allah ketika terjadi padanya suatu kesalahan dan dosa.” إرادَتـُكَ التَجْرِيْدَ معَ اِقامةِاللهِ اِيّاكَ فى الاَسْبَابِ مِنَ الشَهْوةِ الخفِيَّةِ، وَإرادَتـُكَ الاَسْبَابِ معَ اِقامةِاللهِ اِيّاكَ فى التَجْرِيْدَ اِنْحطاط ٌ عن الهِمَّةِ العَليَّةِ “Keinginanmu untuk tajrid hanya beribadat saja tanpa berusaha untuk dunia, padahal Allah masih menempatkan engkau pada golongan orang-orang yang harus berusaha asbab, maka keinginanmu itu termasuk nafsu syahwat yang samar halus. Sebaliknya keinginanmu untuk berusaha asbab, padahal Allah telah menempatkan dirimu pada golongan orang yang harus beribadat tanpa kasab berusaha, maka keinginan yang demikian berarti menurun dari semangat yang tinggi”. سَوَابِقُ الهِماَمِ لاَ تَحْرِقُ اَسْوَرَالاَقْدَارِ “Kerasnya himmah /semangat perjuangan, tidak dapat menembus tirai takdir.” اَرِحْ نَفْسَكَ منَ التـَدْ بـِيْرِفماَ قامَ بهِ غيرُكَ عَنْكَ لا تقـُمْ بهِ لنـَفـْسك “Istirahat dirimu/pikiranmu dari kesibukan mengatur kebutuhan duniamu, sebab dari apa yang telah diatur oleh selain kamu yaitu Allah, tidak perlu engkau ikut sibuk memikirkannya.” اِجْتِهادُكَ فيمَا ضُمنَ لكَ وتقـْصِيرُكَ فيماَ طُلبَ منكَ دَلِيلٌ على انطِماسِ البَصِيْرَةِ منكَ “Kesungguhanmu untuk mencapai apa-apa yang telah dijamin pasti akan sampai kepadamu, di samping kelalaianmu terhadap kewajiban yang di amanatkan kepadamu, membuktikan butanya mata hatimu bashirah.” لاَيَكُنْ تأخُرَ أمَدِ العَطَاءِ معَ الاِلحاحِ فى الدُعاءِموجِباً لِياءسِكَ فهُوَ ضَمن لكَ الاِجاَبة َ فيماَ يختَاَرُهُ لكَ لا فيمَا تَختاَرُلِنفْسِكَ وَفى الوَقتِ الَّذى يُرِيدُ لاف الوقتِ الذى تـُريدُ “Janganlah keterlambatan waktu pemberian Tuhan kepadamu, padahal engkau bersungguh-sungguh dalam berdoa menyebabkan putus harapan, sebab Allah telah menjamin dan menerima semua doa dalam apa yang ia kehendaki untukmu, bukan menurut kehendakmu, dan pada waktu yang ditentukan Allah, bukan pada waktu yang engkau tentukan.” لا يُشكـِّكنَّك فى الوَعدِ عدمُ وقوعِ المَوْعُودِ وانْ تَعَيَّنَ زمَنـُهُ لـءـلاَّيَكونَ ذٰ لكَ قَدحاً فى بصيرَتكَ واِخـْماَداًلِنورِ سَرِيرَتِكَ “Jangan sampai kamu merasa ragu, terhadap janji Allah, karena tidak terlaksananya apa yang telah dijanjikan itu, meskipun telah tertentu tiba waktunya, supaya tidak menyalahi pandangan mata hatimu, atau memadamkan cahaya hatimu sirmu.” Kata-kata bijak Ibnu Atha’illah As-Sakandari اِذاَ فَتحَ لك وُجْهَة ً من التـَّعَرُّفِ فلا تُباَلِ معها ان قَلَّ عَمَلُكَ فَاِنَّهُ مافتحَهاَ لك الا وهو يرِيد انيتعرَفَ اليكَ الم تَعلم انَّ التـَّعَرُفَ هوَمورِدهُ عليكَ والاَعمالُ انتَ مُهدِ يها اليهِ واَينَ ماتـُهد يهِ الَيهِ واَينَ ما تُهدِ يهِ اليْهِ مِمَّا هوَ مورِدهُ اليكَ ”Apabila Tuhan membukakan bagimu suatu jalan untuk makrifat mengenal pada-Nya, maka jangan menghiraukan soal amalmu yang masih sedikit, sebab Tuhan tidak membukakan bagimu, melainkan Ia akan memperkenalkan diri kepadamu. Tidakkah engkau tahu bahwa makrifat itu semata-mata pemberian karunia Allah kepadamu, sedang amal perbuatanmu hanyalah hadiahmu kepad-Nya dengan pemberian karunia Allah kepadamu.” تنوَّعت اجْناَسُ الاَعمالِ لتنوُّعِ وارِداَتِ الاحْوالِ “Beraneka macam jenis amal perbuatan, karena bermacam-macam pula pemberian karunia Allah yang diberikan kepada hamba-Nya.” الاَعمالُ صوَرٌ قاءمة ٌ وَارواحُها وجودُ سِرِّ الاخلاصِ فيها “Amal itu semata bentuk-bentuk yang tampil, adapun ruh-ruh yang menghidupkannya adalah terdapatnya rahasia ikhlas dalam amal perbuatan itu.” اِدْفن وُجُودَك فى ارضِ الخُمول. فما نبتَ مِمَّالم يُدفن لايتِمُّ نِتاجهُ “Tanamlah dirimu dalam tanah kerendahan, sebab tiap sesuatu yang tumbuh namun tidak ditanam, maka tidak sempurna hasil buahnya.” مانفعَ القَلبَ شَيءٌ مثلُ عُزْلةٍ يَدْخُلُ بها ميدان فِكرةٍ “Tidak ada sesuatu yang sangat berguna bagi hati jiwa, sebagaimana menyendiri untuk masuk ke medan berpikir tafakur” كيف يُشْرقُ قلبٌ صُوَرُالاَكوَانِ مُنطبِعَة ٌ فى مِرْاَته ؟ ام كيفَ يرحلُ الى الله وهو مُكبَّلٌ بِشهواتِهِ ؟ ام كيفَ يَطمعُ ان يَدْخُلَ حَضرَةَ اللهِ وهو لم يتطهَّرْ من جنابةِ غفلاتهِ ؟ ام كيفَ يرجُواَنْ يَفهَمَ د قاءـقَ الاسراَرِ وهُوَ لمْ يَتـُبْ من هفَوَاتِهِ؟ “Bagaimana akan dapat bercahaya hati seseorang yang gambar dunia ini terlukis dalam cermin hatinya. Bagaimana menuju kepada Allah, padahal ia masih terbelenggu oleh nafsu syahwat. Atau bagaimana akan dapat masuk menjumpai Allah, padahal ia belum bersih dari kelalaian. Bagaimana ia berharap akan mengerti rahasia yang halus dan tersembunyi, padahal ia belum taubat dari kekeliruannya.” الكَونُ كلُّهُ ظُلمة ٌ واِنّمَا اَناَرَهُ ظُهُورُالحَقِّ فيه فمن رأى الكَوْنَ ولم يَشْهَدْهُ فيهِ اوعِندهُ اوقَبْله اوبَعْدهُ فقد اَعوزَهُ وجودُ الانوَرِ وحُجِبتْ عَنه شموس المعارفِ بِسُحُبِ الاثارِ “Alam itu semuanya dalam kegelapan, sedangkan yang meneranginya, hanya karena dhohirnya Al-haq Allah padanya, maka barangsiapa yang melihat alam, lantas tidak melihat Allah di dalamnya, atau didekatnya, atau sebelumnya, atau sesudahnya, maka sungguh ia telah disilaukan oleh nur cahaya, dan tertutup baginya surya nur-cahaya ma’rifat oleh tebalnya benda-benda alam ini.” مِمَّايَدُلُّكَ على وجُودِ قهرِهِ سُبْحانهُ ان حجبكَ عَنهُ بما ليسَ بموجُودٍ معهُ “Di antara bukti-bukti yang menunjukkan adanya kekuasaan Allah yang luar biasa, ialah dapat menghijab engkau dari pada melihat kepada-Nya dengan hijab tanpa wujud di sisi Allah.” كيفَ يتصوَّرُ ان يحجبهُ شيىءٌ وهوالذى اظهركلَّ شيىءٍ “Bagaimana dapat dibayangkan bahwa Allah dapat dihijab dibatasi tirai oleh sesuatu padahal Allah yang menampakkan mendhohirkan segala sesuatu.” كيفَ يتصوَّرُ ان يحجبهُ شيىءٌ وهوالذى ظَهربِكلّ شيىءٍ “Bagaimana mungkin akan dihijab oleh sesuatu, padahal Dia Allah yang tampak dhohir pada segala sesuatu.” كيفَ يتصوَّرُ ان يحجبهُ شيىءٌ وهوالذى ظهرفى كلّ شيىءٍ “Bagaimana akan mungkin dihijab oleh sesuatu, padahal Dia Allah yang terlihat dalam tiap sesuatu.” كيفَ يتصوَّرُ ان يحجبهُ شيىءٌ وهوالذى ظهرلِكلّ شيىءٍ كيفَ يتصوَّرُ ان يحجبهُ شيىءٌ وهو الظاهرقبل وجودِ كلّ شيىءٍ “Bagaimana akan dapat ditutupi oleh sesuatu, padahal Dia Allah yang tampak pada tiap sesuatu. Bagaimana mungkin akan dihijab oleh sesuatu, padahal Dia Allah yang ada dhohir sebelum adanya sesuatu.” كيفَ يتصوَّرُ ان يحجبهُ شيىءٌ وهو اَظَْهرمن كلّ شيىءٍ “Bagaimana akan mungkin dihijab oleh sesuatu, padahal Dia Allah lebih jelas dari segala sesuatu.” [Luk]
syair cinta ibnu athaillah